pilihan +INDEKS
Usai Sensus Ekonomi WBP, Kepala BPS Apresiasi Karya Batik Narapidana Lapas Gunungsitoli
Kalimat Republik, Gunungsitoli – Tak semua masyarakat mengetahui bahwa Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) juga menjadi bagian dari Pendataan Keluarga Khusus Sensus Ekonomi 2026.
Pendataan tersebut dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Gunungsitoli di Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, Sumatra Utara, Jumat kemarin, 24 Juli 2026.
Kegiatan itu dipimpin langsung Kepala BPS Kota Gunungsitoli, Elijoi Naibaho, bersama jajaran.
Mereka disambut hangat Kepala Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, Sahat Bangun, didampingi Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Kegiatan Kerja (Kasi Binadik dan Giatja), Kasubsi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemas), serta petugas lapas lainnya.
Pendataan tersebut berlangsung sesuai mekanisme yang telah ditetapkan. Prosesnya berjalan tertib dan lancar sebagai bagian dari upaya BPS menghimpun data yang akurat melalui Pendataan Keluarga Khusus Sensus Ekonomi 2026, termasuk terhadap warga binaan yang berada di lembaga pemasyarakatan.
Usai pendataan itu selesai, rombongan BPS tidak langsung meninggalkan lokasi. Kepala BPS Kota Gunungsitoli diajak berkeliling meninjau sejumlah program pembinaan yang dijalankan di dalam Lapas Kelas IIB Gunungsitoli.
Perhatian Elijoi Naibaho kemudian tertuju pada program pembinaan kemandirian membatik yang diikuti warga binaan.
Di lokasi pembinaan, Kalapas Sahat Bangun memperlihatkan secara langsung proses pembuatan batik, mulai dari menggambar motif, proses pencantingan, pewarnaan, hingga hasil akhir yang telah memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.
Karya batik yang dihasilkan warga binaan mendapat apresiasi dari Kepala BPS Kota Gunungsitoli. Menurut Elijoi, pembinaan keterampilan seperti itu adalah langkah positif yang membekali warga binaan dengan kemampuan produktif sebelum kembali ke tengah masyarakat.
"Kami mengapresiasi kreativitas dan semangat warga binaan dalam mengikuti pembinaan membatik. Keterampilan seperti ini menjadi bekal yang sangat baik bagi mereka untuk mendukung proses reintegrasi sosial setelah selesai menjalani masa pidana," ujar Elijoi Naibaho.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, Sahat Bangun, mengatakan pembinaan kemandirian menjadi salah satu program yang terus diperkuat di lingkungan lapas.
Menurutnya, berbagai pelatihan diberikan agar warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas.
"Kami berkomitmen menghadirkan pembinaan yang memberi manfaat nyata bagi warga binaan. Melalui pelatihan membatik dan berbagai program kemandirian lainnya, kami berharap mereka memiliki bekal keterampilan, lebih mandiri, dan mampu kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat," kata Sahat Bangun.
Ia menambahkan, sinergi antara Lapas Kelas IIB Gunungsitoli dan BPS Kota Gunungsitoli diharapkan terus terjalin, tidak hanya dalam mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, tetapi juga untuk memperkuat pelayanan publik serta mendorong lahirnya sumber daya manusia yang lebih produktif melalui program pembinaan di lembaga pemasyarakatan. (A1)

