KAMPAR, RIAU | KalimatRepublik – Suasana di halaman depan SMP Negeri 1 Lipat Kain, Kecamatan Kampar Kiri, kini jauh dari kesan nyaman dan aman. Bahu jalan yang seharusnya menjadi akses warga dan siswa berubah menjadi kubangan lumpur yang memprihatinkan.
Dalam wawancara langsung di lokasi, Kamis pagi (07/05/2026), Kepala UPT SMP Negeri 1 Kampar Kiri, Netti Suhendri, dengan tegas menyuarakan keprihatinan mendalam terkait aktivitas armada truk pengangkut kayu yang seringkali menjadikan tempat parkir dan peristirahatan armada tersebut.
Diketahui keterangan warga, armada truk tersebut diduga kuat milik pengusaha lokal berinisial ARZ alias RN.
Armada yang beroperasi untuk perusahaan eucalyptus terbesar di Riau ini dinilai sangat lalai. Kendaraan berat tersebut tidak hanya melintas, tapi kerap dibiarkan parkir bermalam bahkan berhari-hari tepat di depan pagar sekolah.
"Lihat saja kondisinya sekarang, depan SMP ini sudah seperti 'gun kobau'. Becek parah dan air tergenang karena lobang-lobang besar yang disebabkan mobil-mobil besar parkir berhari-hari di sini," ujar Neti Suhendri sambil menunjuk kondisi jalan yang hancur.
Menurutnya, aktivitas ini sangat mengganggu proses belajar mengajar dan keselamatan siswa.
"Kami mohon sekali kepada pemilik mobil tronton, fuso, dan sejenisnya, tolong jangan parkirlah di depan pagar sekolah ini. Apalagi saat jam masuk dan pulang sekolah, ini sangat mengganggu kelancaran siswa keluar masuk gerbang. Belum lagi area ini sudah sangat rawan kecelakaan," tegasnya.
Ironisnya, upaya sekolah untuk memberikan peringatan pun tidak dihargai. Pihak sekolah mengaku sudah memasang himbauan di pagar, namun seringkali hilang atau rusak tanpa diketahui penyebabnya.
"Kami sudah pasang tanda peringatan, tapi tidak diindahkan bahkan sering hilang. Tolong dipahami ini Pak Sopir dan Pimpinannya, lihat hasilnya... meninggalkan lobang dan becek baru lagi setiap saat," tambahnya dengan nada kecewa.
Kondisi tanah yang sudah turun drastis dan tidak stabil ini bahkan membuat sekolah kesulitan untuk memasang rambu lalu lintas (Kun Jalan) sebagai upaya pengamanan tambahan, karena struktur tanah sudah tidak memungkinkan lagi.
Keresahan warga sekolah semakin besar karena dampak nyata yang dirasakan sehari-hari. Berdasarkan pengakuan warga sekitar sekolah, akibat rusaknya bahu jalan dan kondisi yang tidak rata, lokasi ini sering menjadi lokasi kejadian kecelakaan lalu lintas.
"Akibat rusaknya kondisi bahu jalan depan SMP ini, sering terjadi kecelakaan lalu lintas, apalagi di waktu-waktu ramai ketika keluar masuk para siswa dan orang tua siswa," ungkap salah satu warga.
Hal ini tentu sangat membahayakan nyawa anak-anak dan masyarakat yang sedang beraktivitas di area tersebut.
Keprihatinan semakin memuncak setelah insiden besar yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Dikonfirmasi dari warga dan pihak sekolah, sebuah truk roda 10 pengangkut kayu mengalami kejadian yang sangat mengkhawatirkan.
Truk tersebut tumbang dan roboh tepat di depan pagar sekolah dalam keadaan sedang terparkir, saat masih penuh bermuatan eucalyptus. Akibat beban yang sangat berat dan kondisi tanah yang labil serta turun, kendaraan itu tumbang menghantam pagar sekolah.
"Bukan saat berjalan, tapi saat posisi sudah parkir penuh muatan, truk itu tumbang dan menimpa pagar kita," ungkap salah satu saksi.
Akibat kejadian tersebut, pagar sekolah yang merupakan aset negara rusak parah tertimpa muatan dan badan kendaraan. Namun hingga saat ini, tidak ada upaya perbaikan atau pertanggungjawaban yang nyata dari pihak pemilik armada.
Salah satu warga sekitar sekolah yang enggan disebutkan namanya, mengaku sudah berupaya menyampaikan keluhan dan menuntut keadilan.
"Kami juga sudah bilang sama pihak sekolah, minta saja pertanggung jawaban ke pemilik armadanya. Tapi katanya jawabnya serba sulit, alasannya karena sopirnya juga orang sini dan pemiliknya pun orang kita sendiri orang Lipat Kain," ungkap warga tersebut dengan nada kecewa.
Hal ini dinilai sangat ironis. Secara profesional, perusahaan bergerak mencari keuntungan dan beroperasi secara bisnis, namun di sisi lain fasilitas pendidikan yang dirusak justru dibiayai menggunakan anggaran APBD maupun APBN untuk perawatannya.
"Secara profesional mereka berusaha, tapi sekolah ini kan dibiayai APBD/APBN dalam merawat sarana prasana. Kenapa harus fasilitas umum dan pendidikan yang jadi korban demi kelalaian?" tambahnya.
"Mari sama-sama kita jaga bahu jalan ini, karena digunakan untuk anak didik dan masyarakat. Sudah sama-sama kita lihatlah kondisinya," pungkas Neti Suhendri.
Masyarakat dan pihak sekolah berharap ada keseriusan penuh dari perusahaan pemilik armada untuk segera memperbaiki kerusakan dan menata manajemen operasional, agar keselamatan generasi muda tidak terus dikorbankan demi kepentingan bisnis semata.
Catatan: Pihak manajemen perusahaan dan instansi terkait telah diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan dan klarifikasi terkait pemberitaan ini.