KAMPAR, RIAU | KalimatRepublik.com – Berbagai keluhan dari masyarakat terkait pengelolaan dan manajemen Rumah Sakit (RS) Nurlima semakin muncul ke permukaan, mencakup sejumlah aspek mulai dari dampak lingkungan, permasalahan upah tenaga kerja, disiplin dokter bertugas, hingga kelayakan fasilitas pelayanan kesehatan. Peristiwa meninggalnya seorang anak yang diduga menderita DBD setelah diklaim ditolak rujukan menjadi salah satu pemicu meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap kinerja rumah sakit tersebut.
Keluhan yang diajukan masyarakat meliputi empat kategori utama:
- Dampak lingkungan: Beberapa warga mengaku ada masalah terkait pengelolaan limbah rumah sakit yang tidak sesuai standar, serta kondisi sekitar yang dinilai kurang terjaga kebersihannya, yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan tambahan bagi masyarakat sekitar.
- Upah tenaga kerja: Ada informasi bahwa sebagian tenaga kerja RS Nurlima, terutama staf non-dokter seperti perawat dan petugas administrasi, mengeluhkan besaran upah yang tidak sesuai dengan beban kerja dan standar yang berlaku.
- Disiplin dokter bertugas: Masyarakat mengklaim sering menghadapi masalah ketersediaan dokter pada jam kerja yang telah ditentukan, serta adanya keluhan terkait kedisiplinan dan tanggapan dokter dalam menangani pasien, termasuk kasus penolakan rujukan yang dialami keluarga anak korban meninggal pada hari Rabu (25/3).
- Fasilitas pelayanan: Beberapa pasien dan keluarga mengeluhkan fasilitas medis dan sarana pendukung di RS Nurlima yang dinilai kurang layak dan tidak terawat dengan baik, sehingga berdampak pada proses perawatan pasien.
Kamis (26/03), keluhan datang dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk warga sekitar rumah sakit, pasien dan keluarga pasien yang pernah berobat di RS Nurlima, serta beberapa perwakilan yang menyampaikan aspirasi masyarakat, di antaranya Angki Mei Putra SH dari Forum Pemuda Kenegerian (FPK) Lipat Kain.
Munculnya keluhan terkait berbagai aspek pengelolaan RS Nurlima sudah ada sejak beberapa waktu lalu, namun semakin mendapatkan perhatian setelah peristiwa meninggalnya pasien anak pada hari Rabu (25/3). Angki Mei Putra menyampaikan bahwa banyak masyarakat yang telah lama mengeluhkan kondisi tersebut, yang salah satunya menyebabkan kasus keterlambatan rujukan pasien ke rumah sakit lain.
Semua keluhan terkait dengan pengelolaan dan manajemen RS Nurlima, yang berada di wilayah yang mencakup Kenegerian Lipat Kain, Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau. Dampak lingkungan yang dikhawatirkan juga berdampak pada kawasan sekitar rumah sakit.
Sampai saat ini belum ada klarifikasi resmi dari pihak manajemen RS Nurlima mengenai penyebab munculnya berbagai keluhan tersebut. Namun, masyarakat menduga bahwa masalah ini terkait dengan sistem pengelolaan dan alokasi sumber daya yang tidak optimal di rumah sakit tersebut.
Peristiwa penolakan rujukan pasien anak yang kemudian meninggal dunia juga membuat masyarakat khawatir bahwa masalah manajemen berdampak langsung pada keselamatan pasien.
Ketua FPK Lipat Kain, Angki Mei Putra SH menyatakan siap untuk menjadi perantara dalam menyampaikan keluhan masyarakat kepada pihak berwenang dan manajemen RS Nurlima. Masyarakat juga mengharapkan adanya investigasi mendalam terkait seluruh permasalahan yang diajukan, serta tindakan perbaikan yang konkret dari pihak pengelola rumah sakit dan pengawasan dari dinas kesehatan terkait untuk memastikan kualitas pelayanan sesuai standar.