Jam Gadang Genap Berusia 100 Tahun, Simbol Sejarah dan Identitas Minangkabau

Selasa, 23 Juni 2026

Bukittinggi, Sumbar – Menara Jam Gadang di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, genap menginjak usia ke-100 pada 20 Juni 2026. Selama satu abad berdiri, bangunan setinggi 26 meter ini tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa, mulai dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga menjadi ikon pariwisata nasional.

Dibangun pada 20 Juni 1926, Jam Gadang awalnya merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada H.R. Rookmaaker, Controleur Fort de Kock, sebutan lama Bukittinggi. Pembangunan yang menelan biaya sekitar 3.000 gulden ini dirancang oleh arsitek asli Minangkabau, Yazid Abidin atau yang dikenal sebagai Jazid Rajo Mangkuto.

Keunikan bangunan ini terletak pada teknik konstruksinya yang tidak menggunakan semen maupun rangka besi, melainkan memanfaatkan campuran kapur, pasir putih, dan putih telur sebagai perekat. Mesin jam didatangkan langsung dari Jerman buatan Bernard Vortmann dengan ciri khas penulisan angka Romawi "IIII" untuk angka empat. Nama "Jam Gadang" sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti "Jam Besar".

Sepanjang sejarahnya, bentuk atap menara ini mengalami perubahan yang merefleksikan dinamika zaman. Pada masa Hindia Belanda berbentuk kubah Eropa, berubah menjadi pagoda saat pendudukan Jepang, dan kini berbentuk gonjong ala Rumah Gadang yang mencerminkan identitas budaya Minangkabau sejak kemerdekaan.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan bahwa Jam Gadang bukan sekadar monumen, melainkan penanda sejarah panjang perjalanan bangsa. "Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga penanda zaman. Ke depan, ia akan menjadi saksi lahirnya Generasi Indonesia Emas 2045," ujarnya dalam malam puncak perayaan, Minggu (22/6).

Peringatan satu abad ini dirayakan secara meriah melalui rangkaian kegiatan mulai 3 hingga 21 Juni 2026, meliputi seminar internasional, festival literasi, kompetisi fotografi, hingga pertunjukan seni budaya.

Seratus tahun sudah menara megah ini berdiri kokoh di jantung Bukittinggi, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, budaya, dan perjuangan bangsa Indonesia. Dari sebuah hadiah kolonial yang dibangun dengan ketrampilan tangan putra daerah, kini Jam Gadang telah bertransformasi menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau dan ikon pariwisata nusantara. Perubahan bentuk atap yang mengikuti zaman mengajarkan kita untuk mampu beradaptasi tanpa pernah kehilangan jati diri.

Jam Gadang bukan sekadar susunan batu dan kapur. Ia adalah detak jantung kota, penjaga memori kolektif, serta jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Semoga keberadaannya terus menginspirasi generasi mendatang untuk terus mencintai sejarah, menjaga budaya, dan berkarya demi kemajuan negeri. Tetaplah berdiri gagah, terus berdetak, dan menyinari peradaban.

 

Oleh: M. Hasbi, Wartawan Kalimat Republik