
Istimewa
PEKANBARU, RIAU – Insiden keributan yang melibatkan Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kota Pekanbaru, Iwan Pansa, dan mantan Bupati Rokan Hulu, Suparman bersama Tiga rekannya satu meja, di sebuah kafe di Jalan Arifin Ahmad, Kamis (30/4/2026), menjadi sorotan publik. Video momen tersebut viral di media sosial dan memicu kritik serta rasa menyayangkan terkait dugaan aksi main hakim sendiri serta gaya arogan yang ditampilkan.
Dalam peristiwa yang hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab dan asal mulanya itu, diketahui Suparman saat itu sedang duduk bersama beberapa rekannya. Turut menyaksikan kejadian secara langsung adalah sosok Taufik Tambusai serta dua orang rekannya yang satu meja.
Salah seorang saksi mata yang hadir di lokasi, Andi, mengaku merasa terganggu dengan suasana yang diciptakan. Menurutnya, kejadian tersebut memberikan gambaran adanya tindakan yang menyerupai premanisme di tempat umum.
"Kami melihat keributan itu di tengah pengunjung kafe. Tampak sikap yang arogan dan gaya yang mengarah pada premanisme yang diperlihatkan, seolah-olah merasa kebal hukum di Pekanbaru," ujar Andi saat dikonfirmasi, Jumat (1/5/2026).
Andi menuturkan, dalam insiden tersebut terlihat Iwan Pansa didatangi oleh rombongan. Ia juga mengaku mendengar adanya penggunaan kata-kata kasar serta ancaman yang ditujukan kepada Suparman dan rombongannya.
"Kehadiran mereka yang bergerombol membuat suasana menjadi tidak nyaman. Terlihat keangkuhan dengan memaki-maki menggunakan kata-kata kotor dan mengancam pihak lain," tambahnya.
Terpisah, menurut tamu lain saat peristiwa itu terjadi, menuturkan kejadian ini juga menjadi sorotan tajam terhadap manajemen Wareh Kupie. Masyarakat menilai bahwa sebagai penyedia jasa dan tempat umum, manajemen seharusnya lebih sigap menjaga keamanan serta kenyamanan seluruh pengunjung.
"Kami juga berharap manajemen tempat ini bisa lebih tegas dan proaktif dalam mengamankan lingkungan. Pengunjung berhak mendapatkan rasa aman dan kenyamanan saat menikmati fasilitas di sini," ujar tamu lain yang enggan menyebutkan namanya.
Di sisi lain, meski kecewa dan menyayangkan insiden yang terjadi, masyarakat juga berharap kedua belah pihak dapat menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin dan bijaksana. Hal ini dilatarbelakangi oleh kesadaran publik bahwa figur-figur yang terekam dalam video tersebut merupakan tokoh-tokoh yang dikenal dan dianggap sebagai sosok terbaik di Riau maupun Kota Pekanbaru.
"Kami berharap persoalan ini bisa diselesaikan dengan cara yang arif dan bijak. Publik menaruh hormat karena mengetahui bahwa mereka yang terlibat adalah orang-orang terbaik yang selama ini dikenal di masyarakat," tambahnya.
Merespons kejadian ini, masyarakat berharap kepolisian dapat segera menindaklanjuti dan menegakkan hukum secara tegas demi menjaga rasa aman. Tamu lain tersebut menyatakan harapannya agar Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengki dapat membuktikan komitmennya dalam menciptakan keamanan dan ketertiban.
"Kami masyarakat merasa Kota Pekanbaru sudah tidak aman lagi. Padahal kami meyakini rekam jejak Bapak Kapolda dan Wakapolda yang terkenal pernah menangkap preman kelas kakap. Kami ingin mereka membuktikan komitmennya memberantas premanisme di kota ini demi rasa aman bersama," pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada konfirmasi resmi maupun keterangan pers dari pihak Kepolisian Daerah Riau, manajemen Wareh Kupie, maupun pihak terkait lainnya terkait kronologi dan tindakan hukum yang akan diambil atas insiden tersebut.