
Foto Dikirim Warga di Jadikan Ilustrasi
KAMPAR KIRI, RIAU – Kasus dugaan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak layak konsumsi di wilayah Kelurahan Lipat Kain, Kecamatan Kampar Kiri, terus berkembang. Tidak hanya terjadi di dua sekolah, keluhan serupa juga dilaporkan terjadi di sekolah lain hingga menyebabkan siswa mengalami sakit perut.
Awalnya, warga dihebohkan dengan informasi bahwa makanan yang disajikan di SD 012 dan SD 005 diduga sudah basi. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pihak dapur produksi datang menarik kembali seluruh wadah makanan secara mendadak sebelum sempat dibuka atau dimakan oleh siswa.
"Anak-anak belum sempat membuka dan mengonsumsinya, tiba-tiba pihak dari dapur MBG datang untuk menarik kembali wadah yang masih berisi makanan tersebut," ujar narasumber dari pihak sekolah yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (4/4/2026).
Keprihatinan semakin meningkat setelah beredar foto yang menunjukkan kondisi makanan yang diduga berasal dari program tersebut terlihat sudah tidak segar, berubah warna, dan diduga sudah basi.
Dalam unggahan yang beredar, terlihat tulisan yang menyebutkan: "Buk tolong MBG nya udah basi buk, ni anak saya atas nama #*#**## sakit perut."
Informasi ini datang dari keluarga besar SDN 019 Kampar Kiri. Hingga berita ini diturunkan, (05/04/2026), belum diketahui secara pasti apakah makanan yang dikonsumsi berasal dari dapur yang sama dengan kasus sebelumnya atau tidak, mengingat saat ini sekolah sedang masa libur akhir pekan sehingga tim belum bisa mengonfirmasi lebih lanjut ke pihak sekolah.
Menanggapi polemik tersebut, pihak pengelola (SPPG) dapur MBG Lipat Kain melalui perwakilannya, Eko, memberikan klarifikasi. Ia mengakui telah menarik makanan tersebut, namun mengklaim bahwa saat dimasak dan dikirim kondisi masih layak.
"Sebelum distribusi, kami sudah cek dan hasilnya layak konsumsi. Namun, pada saat mendekati waktu konsumsi, ditemukan adanya sedikit perubahan pada rasa dan aroma. Sebagai langkah cepat dan bentuk tanggung jawab, kami segera mengambil keputusan untuk menarik seluruh makanan tersebut," jelas Eko.
Penjelasan ini, bagaimanapun, ditanggapi keras oleh Forum Pemuda Kenegerian Lipat Kain. Ketua Forum, Angki Mei Putra, SH, menilai kejadian ini sebagai bentuk penyalahgunaan program yang merugikan anak-anak.
"Alih-alih siswa mendapatkan makan bergizi, malah disajikan makanan basi. Kami menilai sangat tidak pantas jika anggaran sebesar Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per porsi tersebut masih juga dimark-up. Ini harus diusut tuntas, termasuk dugaan konflik kepentingan yang terjadi," tegas Angki.
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Kabupaten Kampar, DR Hj Misharti, M.Ag, yang saat ini sedang menunaikan ibadah Umroh di Mekkah, memberikan instruksi tegas terkait kasus ini.
"Kita sepakat bahwa SPPG harus memberikan makanan yang layak dan aman dikonsumsi oleh anak-anak. Dan kami dari Satgas MBG Kabupaten Kampar siap turun dan melakukan pengawasan di lapangan," tegas Misharti via pesan WhatsApp.
Ia meminta data lengkap terkait kejadian ini untuk segera ditindaklanjuti dengan inspeksi mendadak (SIDAK).
"Kapan kejadiannya? Saya akan teruskan ke Sekretaris Satgas agar bisa segera dilakukan sidak," ujarnya.
Ditegaskan pula, Satgas di daerah bertugas melakukan pengawasan, sementara kebijakan terkait menu dan anggaran sepenuhnya merupakan wewenang Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.