KAMPAR, RIAU – Ketua Unit Kerja Srikandi Pemuda Pancasila (PP) Kampar Kiri, Yuni Okta, akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan tersebut diambil setelah ia merasa mendapatkan perlakuan tidak adil, termasuk tuduhan yang dianggap sebagai fitnah tanpa alasan yang jelas.
Yuni Okta mengungkapkan, keputusan dirinya mundur bukan tanpa alasan. Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil lantaran merasa kecewa dengan situasi yang terjadi di internal organisasi pasca dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) dari DPC Kabupaten Kampar.
"Awalnya semua berjalan baik sesuai SK yang dikeluarkan DPC Kabupaten Kampar. Namun, belakangan ini saya merasa difitnah dengan alasan-alasan yang tidak jelas," ujar Yuni Okta saat dikonfirmasi, Senin (12/04/2026).
Lebih jauh, Yuni menilai ada indikasi kuat bahwa situasi ini diciptakan dengan tujuan tertentu, salah satunya diduga untuk merebut posisi yang saat ini ia emban. Menyikapi hal tersebut, ia memilih untuk tidak memperpanjang konflik dan rela melepaskan jabatannya.
"Kuat dugaan ada indikasi ingin mengambil posisi ketua. Kalau memang ingin, silahkan jadi ketua saja. Saya sebenarnya tidak mau sejak awal mengurus ini. Lagian toh apa yang sudah diperjuangkan malah tak dihargai," tegasnya.
Tak hanya itu, Yuni juga menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap sikap pimpinan yang dinilai terindikasi berpihak sepihak dalam menyikapi masalah yang ia alami.
"Saya sangat kecewa dengan sikap pimpinan yang terindikasi ada keterpihakan sepihak dari segala yang saya alami. Seyogyanya seorang pemimpin itu bijak dan adil tanpa adanya keterpihakan yang menjustifikasi tanpa mendengar, melihat, dan merasakan," ungkap Yuni.
Yuni juga menceritakan tekanan yang ia rasakan terkait pembagian waktu antara pekerjaan pribadi dan organisasi. Menurutnya, pimpinan pernah meminta ia untuk meninggalkan pekerjaan demi mengutamakan kegiatan Srikandi.
"Pimpinan yang hadir saat itu, meminta saya untuk meninggalkan pekerjaan, dan mengutamakan acara organisasi Srikandi ini. Benar, organisasi ini adalah organisasi besar, namun miris ketika internal pribadi saya ditekan agar untuk dapat meninggalkan pekerjaan dan mengutamakan organisasi," keluhnya.
Yuni pun mempertanyakan standar ganda yang terjadi. Baginya, tidak semua orang memiliki kondisi ekonomi dan tanggung jawab yang sama.
"Memangnya semua kita sama tolak ukur kehidupannya? Sedangkan mereka ketika diminta untuk mengutamakan kegiatan organisasi, dimana mereka saat itu??" tanyanya dengan nada tinggi.
Hal yang membuatnya semakin kecewa adalah pernyataan pimpinan yang meremehkan pengabdiannya, termasuk saat ia mewakili organisasi dalam Musyawarah Besar (Mubes) di Hotel Sultan Jakarta.
"Sempat pimpinan Srikandi Pemuda Pancasila yang hadir saat itu melontarkan bahwa, kehadiran saya saat itu atas nama perwakilan salah satu mandat dari Organisasi untuk meramaikan Mubes di Hotel Sultan Jakarta, itu tidaklah penting! Tentu saya kaget, karena begitu banyak cerita dan kesan pesan dalam perjalanan tersebut untuk mengharumkan nama organisasi. Ternyata hanya dianggap remeh," ujarnya.
Yuni menegaskan bahwa saat itu kondisinya sedang mengandung, namun tetap berjuang demi nama baik organisasi.
"Saya hamil, saya mengandung, saya ikuti demi organisasi tapi,,, hmmm ya sudahlah," tambahnya dengan nada pasrah namun menyakitkan.
Mengenai isu tidak mengikuti Rakernas, Yuni pun memberikan penjelasannya. Menurutnya, hal itu dilakukan demi kematangan organisasi yang baru ia bentuk.
"Soal Rakernas saya tidak mengikuti, ya karena saya baru membentuk Srikandi Pemuda Pancasila Kampar Kiri, jadi saya tentu harus mempersiapkan diri, baik di segi pengalaman dan pengetahuan berorganisasi," jelasnya.
Yuni juga merasa sedih karena setiap langkah yang ia ambil selalu berusaha dilakukan dengan benar dan koordinatif, namun hasilnya nihil.
"Dan setiap gerakan, saya selalu berkoordinasi dengan Ketua DPC Kabupaten Kampar, meminta tunjuk ajar, ternyata juga tidak dianggap ada sama sekali," keluhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Yuni juga memberikan klarifikasi tegas terkait tuduhan yang membuatnya heran. Ia menegaskan selama menjabat selalu bersikap transparan dan tidak pernah bertindak sendiri.
"Saya tidak pernah membuat kegiatan atas nama organisasi tanpa memberitahu kepada pengurus lainnya di dalam organisasi. Lahhh, kenapa bisa jadi kecemburuan sepertinya ya?" tanyanya.
Ia juga membantah keras tuduhan yang menyebut dirinya mencari keuntungan pribadi melalui organisasi. Menurutnya, latar belakangnya sebagai insan media sudah ada jauh sebelum ia tergabung dalam kepengurusan.
"Saya tidak pernah mengajukan proposal ke perusahaan atau kemanapun pengusaha atas nama organisasi. Lagian pun jauh sebelum saya tergabung ke dalam organisasi, saya sudah mengikuti kegiatan sebagai insan media," jelasnya.
Yuni bahkan merasa bahwa selama menjabat, justru dirinyalah yang banyak berkorban demi nama baik organisasi, baik secara sosial maupun materiil.
"Rasanya, sejak adanya Srikandi PP di Kampar Kiri dan saya ditunjuk sebagai Ketuanya, malahan saya rasanya secara sosial maupun materil berkorban untuk kegiatan yang mengatasnamakan organisasi. Walau seadanya, paling tidak kegiatan tersebut sukses," tambahnya.
Dalam pesannya, Yuni juga mengingatkan pihak-pihak yang menurutnya sudah merasa tinggi hati namun melupakan dasar.
"Kepada saudari yang merasa dirinya sudah bisa melihat keatas tanpa melihat kebawah lagi, pikirlah... Tuhan Maha Tahu ya," ucap Yuni dengan tegas.
Yuni menambahkan, daripada hati tidak tenang dan terus-menerus difitnah, lebih baik ia undurkan diri. Biarlah yang lain yang memimpin dengan niat yang baik.
Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak lain terkait pernyataan yang dilontarkan oleh Yuni Okta terkait mundurnya dari kepengurusan Srikandi PP Kampar Kiri.